Layar ponsel hari ini tak pernah benar-benar diam. Notifikasi berdenting, video berganti dalam hitungan detik, dan emosi publik naik-turun mengikuti ritme algoritma. Di tengah arus cepat itu, Wempy Dyocta Koto memilih berjalan pelan.
Kegelisahannya sederhana, tapi mendasar. “Hari ini manusia hidup di era paling terkoneksi dalam sejarah, namun pada saat yang sama juga mengalami krisis perhatian, krisis makna, dan krisis ketenangan,” ujarnya.
Dari titik itu, Muzzlem tidak lahir sebagai platform yang mengejar viralitas. Wempy justru ingin membangun ruang yang membuat orang berhenti sejenak, berpikir, dan merasa lebih tenang.
Bagi dia, Islam bukan sekadar konten religius. Ia adalah lanskap luas yang mencakup ilmu, seni, etika, hingga cara hidup. Namun di media sosial, wajah Islam sering kali tereduksi.
“Muzzlem ingin keluar dari dua ekstrem tersebut.”
Pilihan itu bukan tanpa risiko. Di tengah algoritma yang menyukai sensasi, pendekatan tenang sering kali kalah cepat. Namun Wempy sadar, apa yang cepat belum tentu bertahan.
Ia tetap hadir di platform populer seperti YouTube, Instagram, dan TikTok. Tapi baginya, itu hanya pintu. “Kami melihat media sosial sebagai ‘pintu masuk perhatian’.”
Yang ingin dibangun bukan sekadar jumlah penonton, melainkan hubungan.
Di balik layar, ia juga menghadapi fenomena “clip culture”. “Dalam dunia algoritma, potongan paling kontroversial sering justru mendapat distribusi terbesar. Itu berbahaya.”
Karena itu, Muzzlem memilih memperlambat ritme dan menjaga konteks.
Wempy juga melihat keragaman sebagai kekuatan. Indonesia menjadi inspirasi penting. “Islam di Indonesia berkembang bukan semata melalui kekuatan politik, tetapi melalui akhlak, perdagangan, seni, pendidikan, dan pendekatan budaya.”
Semangat itu yang ingin ia bawa ke ruang digital global.






Komentar