Misteri dan Sejarah Candi Jedong yang Menarik Perhatian Wisatawan
Candi Jedong, sebuah situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih berdiri kokoh di Desa Wotanmas Jedong, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menjadi salah satu bukti kebesaran peradaban kuno yang masih terjaga hingga saat ini. Dengan lokasi yang berada di tengah lingkungan permukiman, candi ini tidak hanya menjadi objek wisata budaya tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat setempat. Meski sudah berusia ratusan tahun, struktur bangunan Candi Jedong masih terlihat kokoh, menunjukkan keahlian arsitektur masa lalu yang sangat mengagumkan.
Candi Jedong memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, karena merupakan salah satu sisa-sisa peradaban kerajaan besar di Indonesia. Situs ini diperkirakan dibangun pada abad ke-14 hingga ke-15 Masehi, yang merupakan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Dalam catatan lokal, masyarakat sekitar telah mengenal Candi Jedong sebagai tempat yang memiliki nilai spiritual dan historis sejak lama. Selain itu, candi ini juga menjadi tempat untuk melakukan ritual dan acara budaya yang menjaga tradisi leluhur.
Keberadaan Candi Jedong tidak hanya penting dari segi sejarah, tetapi juga memiliki potensi ekonomi melalui sektor pariwisata. Semakin banyak wisatawan yang datang ke lokasi ini, maka semakin besar pula manfaat yang dirasakan oleh masyarakat sekitar. Pemerintah Kabupaten Mojokerto dan masyarakat setempat terus berupaya memperbaiki kondisi candi serta meningkatkan promosi agar lebih dikenal luas. Dengan adanya festival budaya, ritual tradisional, dan publikasi digital, Candi Jedong semakin mendapatkan perhatian dari kalangan pecinta sejarah dan wisatawan.
Sejarah Candi Jedong yang Menggugah Rasa Penasaran
Candi Jedong dikenal sebagai kompleks percandian yang mencakup beberapa gapura. Berdasarkan laporan dari tahun 1917, di situs ini dulunya terdapat tiga gapura. Sayangnya, satu di antaranya kini sudah tidak ada lagi. Gapura yang terbuat dari bata tersebut memiliki poros utara-selatan dan dilengkapi dengan pahatan angka 1298 Saka (1376 Masehi). Meskipun tidak lagi berdiri, di dekatnya ditemukan sebuah batu besar yang merupakan bagian dari bangunan tersebut, yang masih menyimpan informasi sejarah tentang pembangunan candi.
Dua gapura lainnya, yaitu yang terletak di utara dan selatan, masih berdiri hingga saat ini. Gapura utara memiliki denah persegi dengan ukuran panjang 6,86 meter, lebar 3,4 meter, dan tinggi 7,19 meter. Bagian bawah gapura dihiasi panel tanpa relief, sedangkan bagian tubuhnya dihias dengan sabuk berornamen kala distilir dan flora. Di bagian atas pintu gapura terdapat pahatan berbentuk kepala kala, dan atapnya berbentuk piramida bertingkat dengan 16 menara di setiap tingkatnya. Sayangnya, atap ini kini hanya tersisa dua tingkat akibat kerusakan waktu.
Gapura selatan memiliki denah persegi panjang dengan ukuran panjang 12,51 meter, lebar 5,19 meter, dan tinggi 9,75 meter. Gaya arsitektur gapura ini mirip dengan gapura utara, namun memiliki sayap dan pahatan kepala kala di setiap sisi tubuh bagian atasnya. Atap bangunan ini juga mengalami kerusakan, sehingga struktur vertikalnya hanya tersisa tiga tingkat. Pada ambang atas pintu sisi barat gapura, terdapat prasasti Candrasengkala yang berbunyi “brahmana-nora-kaya-bhumi,” merujuk pada tahun 1307 Saka atau 1385 Masehi.
Struktur dan Keistimewaan Candi Jedong
Candi Jedong memiliki struktur yang unik dan menarik, dengan dua gapura utama yang masih berdiri. Gapura utara dan selatan memiliki desain yang serupa, tetapi dengan perbedaan dalam detail ornamen dan ukuran. Kedua gapura ini dihubungkan dengan pagar berbahan bata sepanjang sekitar 50 meter, memberikan kesan bahwa kompleks ini pernah menjadi area yang sangat terstruktur dan terawat.
Salah satu hal yang membuat Candi Jedong menarik adalah adanya gua kuno di sekitarnya. Gua ini menambah nuansa mistis dan daya tarik wisata budaya. Para pengunjung dapat menemukan makna spiritual di balik keberadaan gua tersebut, yang diyakini sebagai tempat peristirahatan para raja dan permaisuri Majapahit.
Selain itu, Candi Jedong juga memiliki 12 prasasti yang ditemukan oleh para sarjana epigrafi. Prasasti-prasasti ini dinamakan Prasasti Jedong I–IX dan memuat data pertanggalan dari abad ke-15. Data ini menunjukkan bahwa situs ini telah ada sejak masa pemerintahan Belitung dari Mataram Kuno hingga Girisawardhana dari Majapahit. Prasasti ini menjadi bukti nyata bahwa Candi Jedong memiliki peran penting dalam sejarah kerajaan tersebut.
Peran Candi Jedong dalam Budaya dan Pariwisata
Candi Jedong tidak hanya menjadi objek sejarah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan budaya dan pariwisata. Masyarakat sekitar sering mengadakan acara budaya dan ritual di area candi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Acara seperti upacara adat, pertunjukan seni, dan festival budaya sering diadakan untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada wisatawan.
Pemerintah Kabupaten Mojokerto dan masyarakat setempat terus berupaya menjaga kelestarian Candi Jedong. Upaya yang dilakukan meliputi perawatan fisik bangunan, promosi melalui media digital, dan penguatan edukasi tentang sejarah dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam candi ini. Dengan adanya program-program seperti ini, Candi Jedong semakin dikenal sebagai destinasi wisata sejarah yang layak dikunjungi.
Selain itu, Candi Jedong juga memiliki potensi ekonomi yang besar. Kunjungan wisatawan yang meningkat dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar. Banyak warga yang mulai membuka usaha kecil seperti jasa tour guide, toko souvenir, dan kuliner yang terinspirasi dari budaya lokal.
Keindahan Alam dan Lingkungan Sekitar Candi Jedong
Lokasi Candi Jedong berada di kawasan perbukitan yang sejuk dengan pemandangan hijau di sekelilingnya. Suasana tenang dan alami ini membuat para pengunjung merasa nyaman ketika berkunjung ke lokasi ini. Pepohonan rindang yang mengelilingi candi memberikan kenyamanan tambahan, sehingga menjadikan Candi Jedong tidak hanya tempat sejarah tetapi juga tempat untuk beristirahat dan menikmati alam.
Kondisi lingkungan sekitar Candi Jedong yang masih terjaga memberikan kesan bahwa candi ini berada dalam wilayah yang sangat asri. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata yang ideal bagi mereka yang ingin merasakan ketenangan dan keindahan alam sambil belajar tentang sejarah.
Kesimpulan
Candi Jedong adalah salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih kokoh berdiri hingga saat ini. Dengan struktur yang unik, nilai sejarah yang tinggi, dan keindahan alam sekitarnya, candi ini menjadi daya tarik bagi wisatawan dan pecinta sejarah. Selain itu, Candi Jedong juga memiliki peran penting dalam budaya dan pariwisata lokal, yang berkontribusi pada perekonomian masyarakat sekitar.
Dengan upaya pelestarian yang terus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, Candi Jedong akan terus menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang layak dikunjungi. Informasi tentang sejarah dan keistimewaan Candi Jedong juga semakin mudah diakses melalui berbagai media digital, sehingga semakin banyak orang yang tertarik untuk mengeksplorasi kekayaan budaya Indonesia.





Komentar