Edukasi
Beranda » Blog » Peningkatan Literasi Keuangan Digital melalui Edukasi QRIS dan Fintech pada UMKM Toko Kelontong Green Asoka

Peningkatan Literasi Keuangan Digital melalui Edukasi QRIS dan Fintech pada UMKM Toko Kelontong Green Asoka

Peningkatan Literasi Keuangan Digital
Peningkatan Literasi Keuangan Digital melalui Edukasi QRIS dan Fintech pada UMKM Toko Kelontong Green Asoka

RAKYAT SIPIL – Surabaya, Transformasi digital di sektor keuangan mendorong perubahan pola transaksi masyarakat dari pembayaran tunai ke non-tunai. Perubahan ini semakin terasa hingga ke level usaha mikro, termasuk toko kelontong di lingkungan permukiman. Namun demikian, belum semua pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) siap mengadopsi sistem pembayaran digital karena keterbatasan literasi keuangan digital.

Sebagai bentuk kontribusi akademisi dalam menjawab tantangan tersebut, tim peneliti melaksanakan kegiatan peningkatan literasi keuangan digital melalui edukasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan fintech pada UMKM Toko Kelontong Green Asoka yang berlokasi di Greges Barat, Jalan Raya Margomulyo, Surabaya. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025 sebagai bagian dari penelitian berbasis edukasi dan pendampingan UMKM.

Jasa Penerbitan Buku dan ISBN

QRIS merupakan standar nasional sistem pembayaran berbasis kode QR yang dikembangkan oleh Bank Indonesia untuk mempermudah transaksi non-tunai. Melalui satu kode QR, pelaku usaha dapat menerima berbagai metode pembayaran digital secara aman dan efisien. Meskipun demikian, pemanfaatan QRIS di tingkat usaha mikro masih menghadapi berbagai kendala, terutama rendahnya pemahaman dan minimnya pendampingan teknis.

Kondisi tersebut juga dialami oleh Toko Kelontong Green Asoka. Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik toko, Bapak Arif Romdhoni, diketahui bahwa sebelum kegiatan edukasi dilaksanakan, toko tersebut belum pernah menggunakan QRIS maupun sistem pembayaran digital lainnya. Seluruh transaksi masih dilakukan secara tunai. Padahal, pelanggan cukup sering menanyakan apakah pembayaran dapat dilakukan menggunakan QRIS.

Cara Menghitung Luas Segitiga Sembarang dengan Mudah dan Akurat

“Sering ada pelanggan yang tanya, bisa bayar pakai QRIS atau tidak. Tapi saya belum tahu cara bikinnya dan belum pernah dapat penjelasan,” ungkap Bapak Arif Romdhoni.

Ketidakhadiran QRIS di toko ini bukan disebabkan oleh penolakan terhadap teknologi, melainkan oleh keterbatasan informasi dan literasi keuangan digital. Pemilik usaha mengaku belum pernah mendapatkan sosialisasi atau pendampingan terkait pembuatan dan penggunaan QRIS. Proses pendaftaran yang dianggap rumit serta kekhawatiran terhadap keamanan transaksi digital menjadi faktor penghambat utama.

Menjawab permasalahan tersebut, tim peneliti memberikan edukasi literasi keuangan digital dengan pendekatan komunikatif dan aplikatif. Materi edukasi meliputi pengenalan fintech, manfaat QRIS bagi UMKM, alur transaksi pembayaran digital, serta aspek keamanan dan pencatatan transaksi. Edukasi disampaikan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh pelaku usaha mikro.
Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga dilanjutkan dengan pendampingan teknis secara langsung. Tim peneliti membantu proses pembuatan QRIS melalui aplikasi GoPay agar pemilik UMKM dapat langsung mempraktikkan penggunaan sistem pembayaran digital tersebut. Pendampingan ini dilakukan tahap demi tahap, mulai dari proses pendaftaran hingga simulasi transaksi.

Melalui pendampingan tersebut, Toko Kelontong Green Asoka kini telah memiliki QRIS yang siap digunakan untuk melayani pembayaran non-tunai. Pemilik usaha juga mulai memahami alur transaksi digital serta cara memastikan keamanan pembayaran yang diterima.

Apa Itu Logical Fallacy? Pengertian, Jenis, dan Contoh Terlengkap

Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan positif. Setelah mengikuti edukasi dan pendampingan, pemilik toko menjadi lebih percaya diri dalam menggunakan QRIS dan merasa lebih siap menghadapi perubahan perilaku konsumen. Kehadiran QRIS dinilai dapat meningkatkan kenyamanan pelanggan sekaligus memberikan citra usaha yang lebih modern dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Tim peneliti menilai bahwa pengalaman ini menunjukkan pentingnya pendekatan edukasi yang disertai pendampingan praktis dalam meningkatkan literasi keuangan digital UMKM. Banyak pelaku usaha mikro yang sebenarnya terbuka terhadap teknologi, namun membutuhkan bimbingan langsung agar tidak merasa ragu atau takut mencoba.

Ke depan, model edukasi dan pendampingan QRIS seperti yang diterapkan pada Toko Kelontong Green Asoka diharapkan dapat direplikasi pada UMKM lain dengan karakteristik serupa. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan penyedia layanan keuangan digital menjadi kunci untuk memperluas literasi keuangan digital dan mendorong inklusi keuangan yang lebih merata.
Melalui kegiatan ini, perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga hadir memberikan solusi nyata bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat. Peningkatan literasi keuangan digital UMKM diharapkan mampu memperkuat daya saing usaha kecil serta mendukung transformasi ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.

Materi Kelas 4 SD: Panduan Lengkap untuk Pembelajaran yang Efektif

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan

× Advertisement
× Advertisement