Edukasi Pendidikan
Beranda » Blog » Retorika pengertian dan contoh penggunaannya

Retorika pengertian dan contoh penggunaannya

Retorika adalah istilah yang sering muncul dalam berbagai konteks, baik dalam bidang komunikasi, politik, pendidikan, maupun seni. Dalam bahasa Indonesia, kata “retorika” memiliki makna yang dalam dan luas. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu rhetorikē, yang berarti seni berbicara atau berpidato. Dalam konteks modern, retorika merujuk pada kemampuan seseorang untuk menyampaikan pesan dengan cara yang persuasif, menarik, dan efektif. Dengan demikian, retorika tidak hanya sekadar berbicara, tetapi juga tentang bagaimana membangun hubungan antara pembicara dan pendengar melalui penggunaan bahasa yang tepat.

Pengertian retorika secara umum dapat diartikan sebagai seni atau teknik berkomunikasi yang bertujuan untuk meyakinkan, membujuk, atau menginspirasi audiens. Dalam praktiknya, retorika digunakan dalam berbagai situasi, seperti pidato, debat, iklan, tulisan opini, hingga presentasi bisnis. Tujuan utamanya adalah untuk mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain agar mereka menerima pandangan atau ide yang disampaikan. Oleh karena itu, retorika menjadi salah satu keterampilan penting yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi mereka yang bekerja dalam bidang komunikasi, politik, atau pendidikan.

Selain itu, retorika juga memiliki fungsi yang sangat beragam. Mulai dari memberikan informasi, menghibur, sampai pada membangkitkan semangat dan motivasi. Dalam dunia pendidikan, retorika digunakan oleh guru untuk menjelaskan konsep-konsep kompleks kepada siswa dengan cara yang lebih mudah dipahami. Di dunia politik, retorika digunakan oleh pemimpin untuk menyampaikan visi dan misi mereka kepada rakyat. Dengan begitu, retorika tidak hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk menciptakan perubahan dan membangun kesadaran kolektif.

Definisi Retorika

Secara etimologis, retorika berasal dari kata bahasa Yunani rhetorikē, yang merupakan bentuk feminin dari rhetorikos, artinya “terkait dengan orator”. Dalam konteks modern, retorika didefinisikan sebagai seni atau teknik berbicara yang bertujuan untuk meyakinkan, membujuk, atau mempengaruhi pendengar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), retorika adalah “seni berbicara atau berpidato yang bertujuan untuk membujuk atau mempengaruhi pendengar”.

Definisi ini menekankan bahwa retorika bukan sekadar berbicara, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menggunakan bahasa, intonasi, dan gaya penyampaian untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, retorika bisa diibaratkan sebagai seni manipulatif yang menggunakan lambang-lambang verbal dan non-verbal untuk mengidentifikasi diri pembicara dengan pendengar. Hal ini membuat retorika menjadi salah satu elemen penting dalam komunikasi efektif.

Apa Itu Remake? Pengertian dan Contoh dalam Bahasa Indonesia

Sebagai ilmu, retorika juga mempelajari bagaimana seseorang dapat menyampaikan gagasan secara sistematis dan logis. Dalam konteks akademis, retorika sering dikaitkan dengan studi tentang oratory, yaitu seni berpidato. Namun, dalam perkembangannya, retorika tidak hanya terbatas pada pidato lisan, tetapi juga mencakup bentuk-bentuk komunikasi lain seperti tulisan, media massa, dan bahkan komunikasi digital.

Pengertian Retorika Menurut Para Ahli

Beberapa ahli telah memberikan definisi dan penjelasan mengenai retorika, yang bisa menjadi referensi untuk memperluas pemahaman kita tentang istilah ini. Berikut beberapa definisi retorika menurut para ahli:

  1. Keraf (1994:3)

    Menurut Keraf, retorika adalah suatu telaah atau studi yang simpatik mengenai oratoria atau seni berpidato. Kemampuan dan kemahiran berbahasa waktu itu diabdikan untuk menyampaikan pikiran dan gagasan melalui pidato kepada kelompok massa tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.

  2. Rahmat (2001:10)

    Rahmat mendefinisikan retorika sebagai ilmu yang mempelajari cara mengatur komposisi kata agar timbul kesan yang telah dikehendakinya pada diri khalayak. Ia juga menyatakan bahwa retorika adalah pemekaran bakat tertinggi manusia, yaitu rasio dan cita rasa lewat bahasa selaku kemampuan untuk berkomunikasi dalam medan pikiran.

  3. Saputra (2006:2)

    Saputra menyebut retorika sebagai ilmu yang mempelajari tentang bagaimana bertutur kata di hadapan orang lain dengan sistematis dan logis untuk memberikan pemahaman dan meyakinkan orang lain.

    Sejarah dan Makna Sagara Karangbolong dalam Budaya Jawa

  4. Suhandang (2009:28)

    Suhandang menggambarkan retorika sebagai bentuk komunikasi di mana seseorang menyampaikan buah pikirannya baik lisan maupun tertulis kepada hadirin yang relatif banyak dengan pelbagai gaya dan cara bertutur, serta selalu dalam situasi tatap muka (face to face) baik langsung maupun tidak langsung.

  5. Aristoteles

    Aristoteles menyebut retorika sebagai “the facult of seeing in any situation the available means of persuasion”, yang artinya kemampuan untuk melihat perangkat alat yang tersedia untuk mempersuasi.

  6. Plato

    Plato menganggap retorika sebagai seni bertutur untuk memaparkan kebenaran. Baginya, retorika yang tidak memandang kemanfaatan dan kebenaran bukanlah retorika.

  7. Gusti Ngurah Oka

    Menurut Gusti Ngurah Oka, retorika merupakan ilmu yang mengajarkan tindak dan usaha efektif dalam persuasi penataan dan penampilan tutur untuk membina saling mengerti dan kerjasama kedamaian dalam kehidupan masyarakat.

Dari definisi-definisi tersebut, terlihat bahwa retorika tidak hanya sekadar seni berbicara, tetapi juga memainkan peran penting dalam membangun hubungan, mempengaruhi pendapat, dan menciptakan dampak sosial.

Rumus Bunga Tunggal dan Majemuk dalam Matematika Keuangan

Tujuan dan Fungsi Retorika

Retorika memiliki berbagai tujuan dan fungsi yang berbeda, tergantung pada konteks penggunaannya. Berikut adalah beberapa tujuan dan fungsi utama dari retorika:

1. Tujuan Retorika

Menurut Tasmara (1997:156), terdapat lima tujuan utama retorika, yaitu:
To Inform: Memberi keterangan dan pengertian pada massa, guna memberikan penerangan yang mampu menanamkan pengertian dengan sebaik-baiknya.
To Convise: Meyakinkan dan menginsafkan.
To Inspire: Memunculkan inspirasi dengan teknik dan sistem penyampaian yang baik dan bijaksana.
To Entertain: Menggembirakan, menghibur dan menyenangkan, dan memuaskan.
To Ectuate (to put into action): Menggerakkan dan mengarahkan untuk bertindak menetralisir dan menjalankan ide yang sudah dikomunikasikan oleh orator dihadapan massa.

2. Fungsi Retorika

Menurut Raudhonah (2007:52), retorika memiliki beberapa fungsi, antara lain:
Mass information: Untuk memberi dan menerima informasi kepada khalayak.
Mass education: Untuk memberi pendidikan.
Mass persuasion: Untuk memengaruhi.
Mass entertainment: Untuk menghibur.

Fungsi-fungsi ini menunjukkan bahwa retorika tidak hanya digunakan untuk tujuan politik atau komersial, tetapi juga dalam konteks pendidikan, hiburan, dan sosial.

Jenis-Jenis Retorika

Berdasarkan struktur dan cara penyampaian, retorika dibagi menjadi beberapa jenis. Berikut adalah beberapa jenis retorika yang umum dikenal:

1. Monologika

Monologika adalah jenis retorika yang melibatkan satu pihak yang berbicara, biasanya dalam bentuk pidato, ceramah, atau kuliah. Dalam monologika, pembicara bertugas untuk menyampaikan pesan secara mandiri tanpa adanya interaksi langsung dengan pendengar.

2. Dialogika

Dialogika adalah jenis retorika yang melibatkan dua atau lebih pihak yang berbicara secara bersamaan. Contohnya termasuk diskusi, tanya jawab, debat, dan percakapan. Dalam dialogika, interaksi antara pembicara dan pendengar menjadi lebih dinamis dan saling memengaruhi.

3. Pembinaan Teknik Bicara

Teknik bicara merupakan bagian penting dalam retorika. Pemahaman tentang cara bernapas, mengucap, bina suara, dan berbicara secara efektif akan memperkuat kemampuan seseorang dalam menyampaikan pesan secara persuasif.

Strategi Penyusunan Retorika

Menurut Aristoteles, ada lima strategi penyusunan retorika yang dikenal dengan istilah “The Five Canons of Rhetoric”, yaitu:

  1. Invention (Penemuan Bahan)

    Invention adalah proses pencarian dan pengembangan argumen yang relevan dengan tujuan pidato. Ini melibatkan kemampuan untuk menemukan, mengumpulkan, menganalisis, dan memilih materi yang tepat untuk pidato.

  2. Dispositio/Arrangement (Penyusunan Bahan/Materi)

    Dispositio adalah penataan ide agar mudah dipahami oleh pendengar. Penataan yang baik akan membantu pendengar memahami hubungan antar ide dan menghindari kebingungan.

  3. Style/Elocutio (Gaya/Pemilihan Bahasa Yang Indah)

    Style berkaitan dengan cara penggunaan bahasa dalam mengekspresikan ide. Gaya yang efektif akan membuat pesan lebih jelas, menarik, dan powerful.

  4. Memory (Mengingat Materi)

    Memory berkaitan dengan kemampuan untuk mengingat tentang apa yang akan dikatakan. Pada masa kini, ini lebih berkaitan dengan penggunaan catatan atau manuskrip daripada menghafal secara keseluruhan.

  5. Pronountiatio/Delivery (Penyampaian)

    Delivery adalah bagian terakhir dari retorika. Ini melibatkan cara penyampaian secara vokal dan fisik dalam mempresentasikan pidato. Penyampaian yang baik akan meningkatkan daya tarik dan kepercayaan pendengar terhadap pesan yang disampaikan.

Dengan memahami strategi-strategi ini, seseorang dapat meningkatkan kemampuan retorikanya dan menjadi lebih efektif dalam menyampaikan pesan kepada audiens.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan

× Advertisement
× Advertisement